Selasa, 19 Mei 2009

A. Bagan Pengolahan Gula Putih Dari Tebu

1. Pengolahan tebu menjadi gula terdiri atas beberapa tahapan, yaitu Pemerahan Nira, Pemurnan Nira, Penguapan Nira, Kristalisasi dan Pemutaran dan Penyelesaian

2. Bahan baku adalah tebu, kapur, belerang, phosphat, floculant, yang disebut bahan pembantu

3. Ampas, tetes, blotong disebut hasil samping

4. Nira mentah, nira encer, nira kental, masakan adalah hasil utama

5. Gula (SHS) produk utama / akhir

6. Setiap 100 bagian tebu akan menghasilkan gula 8 bagian, tetes 4 bagian, blotong 3 bagian.

Nira mentah 100 bagian, nira encer 102 bagian, nira kental 24 bagianmasakan 12 bagian.

Bahan pembantu yang dipergunakan meliputi : kapur 0,2 ton, belerang 50 kg, phosphat 100 ppm dan floculant 1-3 ppm, jumlah hasil dan bahan yang digunakan tersebut diatas dapat berubah, tergantung pada mutu tebu dan kinerja pabrik

7. Selalu diupayakan agar sejumlah tebu yang digiling dapat diperoleh gula sebanyak mungkin (kehilangan gula dalam ampas, blotong, tetes dan kehilangan yang lain minimal)


B. TEBU

1. Gula yang terdapat dalam tebu dibentuk dari CO2 dan H2O dalam proses fotosintesa ini terjadi pada daun yang brwarna hijau (mengandung chlorophyll) dan dengan bantuan sinar matahari.

2. Kandungan gula dalam tebu (rendemen) ditentukan oleh banyak faktor antara lain lahan, curah hujan, (iklim), air, jenis tebu, umur, dan kultur teknis

3. Kehilangan gula dalam tebu sejak di kebun sampai menjadi gula dapat terjadi karena : tebu lewat masak, serangan hama penyakit, pembiakan vegetatif/ generatif, tebu ditebang tidak segera diangkut ke pabrik, tebu di halaman pabrik tidak seera digiling dan kehilangan dalam proses pengolahan.

4. Syarat tebu giling = manis, bersih, segar (MBS)

5. Manis

Kadar gula / rendemen tinggi

Faktor penting = umur, varietas, kultur teknis, lahan curah hujan/ iklim

6. Bersih

7. Kadar kotoran (trash) maks. 5%

yang termasuk trash = pucuk tebu, sogolan, daun, daun kering, dan tanah

Trash dapat mengakibatkan : kapasitas giling lebih rendah, kehilangan gula lebih besar, kesulitan proses, mutu gula tidak memenuhi standard, biaya transport tebu lebih tinggi

8. Segar

Tenggang waktu tebang – giling 1 x 24 jam

jika tidak segar dapat mengakibatkan kapasitas turun, kesulitan proses, kehilangan gula lebih besar, mutu gula tidak memenuhi standar.

Tebu terbakar dan tidak segar mengakibatkan kehilangan gula lebih besar dan pertumbuhan mikroba terutama Leuconostoc lebih besar dengan hasil kerusakan gula yang disebut dextran menimbulkan nira menjadi viskus.


C. PEMERAHAN NIRA

1. Tujuan pemerahan nira adalah memerah nira sebanyak mungkin dari tebu. Pemerahan ini dilaksanakan dengan cara yang efisien, dan kerusakan gula sedikit mungkin.

2. Pemerahan nira lazimnya digunakan gilingan dan diffuser. Gilingan memerah dengan tekanan, sedangkan diffuser dengan proses difusi.

Sebelum digiling tebu dipersiapkan di alat kerja pendahuluan yang dapat berupa pisau tebu, Hammer Shreeder, Unigrator. Dengan alat kerja pendahuluan tebu di cacah, dipukul, dipotong, dirusak strukturnya sehingga sebagian besar sel tebu terbuka.. Alat kerja pendahuluan dapat meningkatkan ekstraksi, mempermudah bercampurnya imbibisi dan meningkatkan kapasitas.

3. Nira terdapat dalam sel tebu. Pada gilingan awal terperah nira yang kemurniannya lebih tinggi, yang berasal dari sel-sel yang tua. Pada gilingan berikutnya terperah nira yang kemurniannya lebih rendah (berasal dari sel tebu muda, ruas). Makin kebelakang nira yang terperah makin sedikit.

4. Tidak mungkin seluruh nira terperah. Ampas mengikat sejumlah nira yang seimbang dengan berat sabut (lebih kurang 50 %)

5. Untuk mengambil gula yang terdapat dalam sisa nira dalam ampas dilakukan dengan memberikan air imbibisi. Air imbibisi mengencerkan sisa air dalam ampas sehingga meskipun jumlahnya tetap kurang lebih 50% tetapi kadar gulanya lebih rendah.

6. Sistim imbibisi dibedakan menjadi imbibisi sederhana hanya air yang diberikan sebagai imbibisi, dan imbibisi majemuk (jika selain air diberikan pula nira). Disebut imbibisi tunggal (air dinilai di satu tempat), Dobel,tripel (air diberikan di dua,tiga tempat, dst.), Contoh imbibisi majemuk n3 a1, n4 a2, w a3

7. Jumlah air imbibisi 20 – 40 % tebu. Makin banyak air yang diberikan ekstraksi meningkat pula, tetapi bukan gula yang terektrasi juga semakin banyak. Dampak negatifnya beban penguapan semakin besar, kadar air ampas meningkat sehingga dapat menyebabkan gilingan selip dan nilai kalori ampas menurun.

8. Imbibisi air panas (60 oC) dapat meningkatkan ekstraksi, tetapi dapat pula mengakibatkan makin banyak pula bukan gula yang terperah dan gilingan selip.

9. Ampas menyerap 5 – 10 kali beratnya. Hal ini merupakan salah satu penyebab tidak meratanya imbibisi.

10. Imbibisi memberikan pada ampas dengan disemprotkan pada ampas dengan nozzle , pipa berlubang, luapan dan maserasi.

11. Imbibisi diberikan di ampas pada saat keluar dari gilingan atau pada saat akan masuk ke gilingan.

12. Faktor yang berpengaruh pada keberhasilan imbibisi yaitu jumlah, suhu, sel yang terbuka, cara pemberian, dan pol dalam ampas gilingan di mukanya.

13. Sanitasi gilingan adalah kegiatan untuk mematikan / mengurangi populasi mikrobia, Sanitasi dapat dilakukan dengan penyemprotan uap di stasiun gilingan, pembersihan ceceran nira / ampas. Pemberian Biosida di nira gilingan, menggunakan talang nira yang terbuat dari tembaga (sifat oligodinamis ), tidak ada sudut mati pada talang nira, bak penampung nira gilingan yang tidak terlalu besar.

14. Keberhasilan ekstraksi dinilai dengan HPG (normal 96-98 %), HPBI (normal 55-80 %), HPBTotal (normal 90-94 %), pol ampas (normal 1,5 – 2,0) , pencampuran imbibisi dengan angka factor campur (normal 50 %), kehilangan karena mikrobia dinilai dengan PSHK (96 %).

D. PEMURNIAN NIRA

1. Pemurnian nira bertujuan untuk memisahkan zat bukan gula yang terdapat dalam nira dengan menjaga agar kehilangan gula serendah mungkin, dan dengan cara yang efisien.

2. Zat penyusun nira meliputi: air, sukrose, monosakarida (glukose & fruktose), asam organik,zat inorganik, senyawa nitrogen (asam amino & protein), polisakarida (selulose, hemiselulose, lignin), lipida (lilin tebu, asam lemak), dan zat warna.

3. Sukrose dalam larutan yang bersifat asam terinversi menjadi gula invert (campuran glukose dan fruktose). Inversi makin besar jika pH makin rendah, suhu makin tinggi dan waktu makin lama.

Dalam larutan yang bersifat netral/alkalis sukrose tidak rusak.

4. Pada suhu >200 oC suckrose mengalami karamelisasi membentuk zat warna coklat yang disebut karamel.

5. Sucrose mudah larut dalam air kelarutannya sebesar S=64,1835+0,1047t+0,0005307t2. S= Kelarutan sukrose (%) t=suhu larutan (oC)

6. Sukrose bersifat optis aktif.

Sifat ini digunakan untuk menentukan kadar sukrose dalam larutan. Sukrose tidak menghantarkan arus listrik, Dengan kapur membentuk kalsium sakarat.

7. Monosakarida dalam larutan yang bersifat alkalis (pH>7) rusak menjadi zat berwarna coklat jika suhu > 55 oC. Pada suhu <55oC terbentuk asam-asam (tidak berwarna coklat). Makin tinggi suhu dan lama, waktu perpecahan semakin besar.

8. Monosakarida dengan asam amino dapat membentuk zat warna coklat yang disebut senyawa melanoidins. Reaksinya disebut reaksi Maillard.

9. Asam inorganik meliputi : asam sitrat, suksinat, oxalat, fumarat, asetat. Makin tinggi kadar asam, pH makin rendah. Asam bereaksi dengan kapur membentuk garam yang larut / tidak larut. garam yang larut berpotensi membentuk kerak. Kecepatan reaksi asam-asam tergantung pada konstanta disosiasinya.

10. Senyawa inorganik meliputi K, Na, Ca, Mg, Fe, Al, Si, P, Cl.Sebagian diendapkan pada pengapuran, sebagian menjadi kerak, sisanya terikut tetes.

11. Senyawa yang mengandung N (protein dan asam amino)berpotensi membentuk zat warna coklat (reaksi Maillard).Protein merupakan kolloid dalam nira.Pada pemanasan dapat terkoagulasi dan mengendap.

12.Amylum merupakan polisakarida yang larut dalam nira, Disamping dextran,amylum merupakan bahan yang menimbulkan tingginya viskositas nira. Polisakarida yang tidak larut missal selulose, hemiselulose, dan lignin.Senyawa ini terukat dalam ampas.

13. Senyawa lipida misalnya lilin tebu dan asam lemak. Senyawa ini tidak larut dalam air.Lilin tebu dapat menyumbat saringan nira dan gilingan selip.

14. Zat Warna meliputi zat yang aslinya berwarna (Chlorophyll, xanthophylls, caroten, anthocyanin), aslinya tidak berwarna (polyphenol, senyawa amino). Disamping itu ada pula zat warna yang berbentuk dalam proses (karamel, melanoidin, dan perpecahan gula)

15. Proses pemurnian dapat dilakukan secara defekasi, sulfitasi dan karbonatasi. Yang banyak digunakan dalam pengolahan gula putih saat ini adalah sulfitasi.

16. Mekanisme proses meliputi : fisis, khemis, fisis-khemis dan kombinasi ketiganya.

17. Variabel proses adalah : pH, suhu, waktu, dan konsentrasi. Variabel proses diatur pada kondisi optimalnya, bukan maksimumnya.

18. Pemanasan nira dimaksudkan untuk mencapai kondisi yang optimal pada pembentukan endapan yang maksimum dan kehilangan gula yang rendah disamping itu bermanfaat untuk pengendalian kolloid dan mematian jazat renik.

19. Pengapuran pada pH yang tinggi dimaksudkan untuk pembentukan endapan calsium sulfit yang baik (disosiasi asam sulfit), penghilangan bukan gula yang maksimal. Pembentukan warna oleh monosakarida dapat ditekan rendah selama suhu tidak terlalu tinggi dan waktu tinggal di tangki reaksi singkat (maksimum 1 menit).

20. Untuk mengakomodasi reaksi yang lambat terutama asam-asam yang polyvalent, waktu reaksi pada defekasi dapat mencapai 3-5 menit. Adanya kolloid dengan titik isoelektris yang berbeda-beda, dapat dilakukan pengapuran bertahap.

21. Kapur dalam jumlah yang cukup (± 1,9 ku / 1000 ku tebu) diberikan dalam bentuk susu kapur 7 oBe. Densitas yang rendah dapat mempercepat reaksi, tetapi kebutuhan uap untuk menguapkan air lebih besar. Kapur dapat diberikan dalam bentuk sakarat kapur.

22. Phospat diperlukan untuk memperbaiki treaksi defekasi. Phospat diberikan dalam bentuk asam phospat atau larutan TSP. Jumlah penambahan tergantung pada kadar phospat dalam nira mentah. Penambahan phospat untuk memperoleh kejernihan nira yang baik dikaitkan dengan zat pembentuk kolloid, yaitu Fe, Al, dan Si

P2O5

Fe2O3 + Al2O3 + SiO2

Jika pebandingan tersebut <0,15> 0,25 nira jernih. Dalam praktek penambahan dapat mencapai 50 – 200 ppm : (sisa P2O5 dalam nira encer besarnya ± 50 ppm)

23. Gas SO2 yang keluar dari tobong belerang kadarnya ±10 %. Kadar gas SO2 dan konsentrasi kapur dalam nira menentukan ukuran endapan CaCO3, yang terbentuk. Konsentrasi yang terlalu tinggi menghasilkan endapan lembut yang kurang menguntungkan.

24. Untuk mengurangi pembentukan warna di Evaporator / mengurangi inversi pH nira encer 6,9 – 7,2. Di pengendapan dapat terjadi penurunan 0,2 – 0,3 point akibat reaksi yang masih berlanjut. Sehubungan degan hal ini proses proses sulfitasi diakhiri pada pH ± 7,2

25. Sebelum nira diencerkan, dipanaskan sampai ± 105 oC. Pemanasan ini dimaksudkan untuk menyempurnakan reaksi dan pengeluaran gas yang larut dalam nira. Pelepasan gas dapat dilaksanakan dalam bejana pengembang

26.Proses pengendapan diharapkan berjalan dengan cepat. Untuk mempercepat pengendapan, ke dalam nira ditambahkan flokulan sebesar 1-3 ppm. Kecepatan pengendapan dipengaruhi beberapa factor sesuai dengan Hukum Stoke.

g D2 (d1 – d2)

V =

18 m

g = percepatan grafitasi

D = diameter partikel

d1 = densitas endapan

d2 = densitas nira

m = viskositas nira

27. Nira kotor yang dihasilkan ditapis menggunakan RVF atau pressan. Karena masih keruh, nira tapis RVF dikembalikan ke nira mentah tertimbang atau diolah dengan proses talofiltrat. Nira tapis pressan dicampur dengan nira jernih pengendapan menghasilkan nira encer yang kemudian diuapkan di evaporator.

28. Susu kapur dibuat dengan cara memadamkan kapur tohor(Ca0) dengan air panas. Reaksinya Ca0 +H20 =====Ca(0H)2 +Kalori. Digunakan air panas agar diperoleh partikel Ca(OH)2 yang kecil sehingga dispersitas susu kapur baik. Dispersitas yang baik akan lebih mudah bereaksi dan tidak mudah mengendap di pipa. Setelah terbentuk Ca(OH)2 ditambah air dingin sehingga diperoleh Be yang diharapkan.(7oBe). Digunakan air dingin agar diperoleh kelarutan yang lebih tinggi yang berdampak pada kecepatan reaksi yang lebh tinggi.

29. Gas S02 diperoleh dari pembakaran belerang dalam tobong belerang. Sebelum dioksidasi menjadi gas S02, belerang padat mencair dan menguap menjadi belerang uap.

Reaksi pembakaran sbb: S +02 =====S02+ kalori. Reaksinya mengeluarkan panas.Apabila tidak didinginkan, suhu pembakaran menjadi terlalu tinggi.Hal ini merugikan karena gas S02 dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi gas S03 yang dengan air dapat membentuk asam sulfat yang sangat korosif. Suhu pembakaran sebaiknya sekitar 360 oC. Untuk menghilangkan panas yang berkelebihan diperlukan pendinginan pada tobong belerangnya. Penguapan belerang yang terlalu cepat yang tidak diimbangi udara yang cukup, mengakibatkan belerang uap belum teroksidasi. Belerang uap ini dapat menyublin di pipa2.

Udara yang masuk tobong harus kering karena uap air dapat merupakan katalisator pembentukan gas S03.

Contoh :

Proses pemurnian nira cara sulfitasi (lihat bagan pada gambar 2)

    1. Nira mentah dipanaskan di pemanas sampai suhu 75 oC
    2. Dari pemanas I nira dialirkan ke defekator I. Dalam tangki ini nira ditambah susu kapur 7oBe sampai netral (pH = 7,0). Waktu tinggal nira dalam defekator I selama + 3 menit
    3. Dari defekator I nira dialirkan ke defekator II dan dikapuri lagi sampai + pH 8,6 (sulfitasi netral). Nira tinggal dalam defekator II selama maksimum 1 menit.
    4. Dari defekator II nira dialirkan ke tangki sulfitasi. Dalam tangki ini nira ditambahkangas SO2 sehingga ira mempunyai pH + 7,2
    5. Dari SO2 tower nira mengalir ke tangki reaksi untuk memberi waktu pembentukan endapan. Waktu tinggal nira dalam tangki ini selama +5 menit.
    6. Dari tangki reaksi nira dialirkan ke pemanas II dan dipanaskan sampai 105 oC. Pemanasan ini dimaksudkan untuk penyempurnaan endapan dan mempermudah pelepasan gas yang terlarut dalam nira di flash tank
    7. Di Flash tank terjadi pelepasan gas yang terlarut dalam nira sehingga tidak mengganggu proses pengendapan kotoran dalam peti pengendap.
    8. Sebelum nira masuk ke tangki pengendapan ditambahkan floculant sebanyak 1-3 ppm. Di dalam tangki pengendap kotoran dalam nira mengendap dan terpisahkan dengan bagian jernihnya. Endapan disebut nira kotor, sedangkan bagian nira yang jernih disebut nira jernih. Nira kotor diolah lebih lanjut dalam rotary vaccum filter, menghasilkan blotong dan filtrat. Blotong dibuang, sedangkan filtrat dikembalikan ke nira mentah


E. PENGUAPAN

1. Penguapan dimaksudkan untuk menguapkan sebagian besar air ( ± 70 %) sehingga diperoleh nira kental yang mendekati jenuh.(brix 64%).

Air diuapkan di penguapan E= Gne (1- bne/bnk). Gne = berat nira encer, bne = brix nira encer, bnk = brix nira kental.

Penguapan dilaksanakan dalam kondisi hampa agar kerusakan gula lebih kecil.

Untuk menghemat uap penguapan dilaksanakan dalam penguapan majemuk. Bahan pemanas yang digunakan adalah uap jenuh bertekanan 0.4-1 ato (suhu maksimum uap 130oC, suhu maks nira 120oC).

2. Dalam penguapan majemuk 1 kg uap dapat menguapkan N kg air. N adalah jumlah Badan penguap dalam seri penguapan. Makin banyak nilai N penghematan semakin besar, meskipun kenaikkannya tidak linier. Jumlah N>5 penguapan kurang menguntungkan karena penguapan menjadi sangat lambat.

3. Hampa di kondensor dibentuk oleh kondensasi uap nira. Kondensasi ini mengakibatkan volume menyusut ± 5000 kali. Pompa hampa berfungsi untuk mengeluarkan gas yang tidak mengembun di kondensor

4. Jumlah air diuapkan ditentukan oleh jumlah panas yang dipindahkan dari uap ke nira. Jumlah panas yang dipindahkan dihitung dengan rumus : Q = U A D T

Q = Jumlah panas yang dipindahkan, Kcal/jam

U = Koefisien perpindahan panas, Kcal/m2/oC/jam

A = Luas bidang pemanas

DT= Selisih suhu pemanas dengan nira

Nilai u dipengaruhi oleh: jenis logam pipa pemanas, tebal pipa pemanas, kerak pada sisi nira, kerak pada sisi uap, pengeluaran gas tak terembunkan, pengeluaran kondensat, viskositas nira, suhu nira, selisih suhu nira dan pemanas, level dalam pipa.

Luas bidang pemanas (=A) besarnya tertentu, tidak berubah dengan proses, tergantung pada spesifikasi badan penguap.

Selisih suhu uap dan nira tergantung pada tekanan uap bekas yang tersedia dan hampa badan terakhir.

5. Faktor Penting Operasional

· Tekanan ube (0,6 – 1,0)

· Hampa BP terakhir + 65 cm/h

· Suhu dan tekan ruang uap/ruang nira sesuai SOP PG masing-masing

· Level nira dalam BP I 1/3 tinggi pipa (kuadrupel)

· Pengeluaran kondensat lancar

· Pengeluaran gas tak terembunkan baik

· Pengerakan

· Kondensat ada gula

· Air jatuhan pH, gula

· Pencapaian brix nira kental

· Waktu proses


6. Kehilangan Gula

a. Kehilangan secara mekanis

Puncratan nira kondensor/BP berikutnya. Dengan penukaran nira yang baik dapat ditekan <>

Kemungkinan penyebab : penangkap nira yang kurang baik, hampa terlalu tinggi (normal 65 cmHg), level nira terlalu tinggi, kecepatan penguapan yang terlalu tinggi (> 3,6 – 4,6 m/dt), pemasukan nira diatas kalandria, tinggi ruang diatas kalandria <>

b. Kehilangan secara kimia

1) Inversi

Angka normal besarnya inverse : maksimum 0,2 % kadar sucrose

Cara mendeteksi : glucose ratio (normal naik 4 %), apabila ratio ini tetap atau turun, menunjukkan adanya inverse sucrose.

Kemungkinan penyebab : terlalu tinggi di BP no.I, waktu terlalu lama, pH terlalu rendah

2) Karamelisasi

Cara mendeteksi : kenaikan warna coklat ne – nk yang tidak proporsional kemungkinan penyebab : suhu terlalu tinggi, waktu terlalu lama di badan penguap, resirkulasi nira.

7. Penghematan Uap

a. Penguapan majemuk

Makin banyak BP dalam seri, penghematan uap makin tinggi. Dalam penguapan multiple effect, untuk menguapkan 1 kg air diperlukan + 1/n kg uap. n = jumlah badan dalam seri. Makin tinggi seri penguapan, kenaikan efisiensi tidak linier

b. Penyadapan

Penghematan uap dengan penyadapan uap = m/n x w

m = no.BP yang disadap, n = jumlah BP dalam seri, w = berat uap yang disadap

c. Thermokompresor

Thermokompresor digunakan untuk menaikkan nilai uap nira dengan menaikkan suhu dan tekanannya menggunakan uap baru..

Penghematan uap dengan thermokompresor = uq/n

u = entrainment ratio, q = jumlah uap baru yang dikonsumsi oleh thermokompresor, n = jumlah effek.

Menguntungkan jika konsumsi uap bekas > produksi uap bekas.

Kondisi yang membatasi pemasangan thermokompresor adalah : jumlah uap nira yang diaspirasikan terbatas, jumlah uap nira yang masuk ke kondensor tidak dapat lebih rendah dari bats tertentu

d. Turbokompresor

Menaikkan nilai uap nira dengan menekan turbokompresor.



F. PEMUTARAN DAN PENYELESAIAN

1. Gaya Pemisahan

Pemisahan gula dari strop masakan dalam pemutaran menggunakan gaya sentrifugal

K = mv2 / R

K = gaya sentrifugal, m = massa masakan, v = kecepatan linier, r = jari-jari puteran

2. Pemisahan Strop

Pada tahap awal yang terpisah adalah strop bebas. Setelah kristal makin rapat tinggallah strop yang terperangkap diantara kristal. Akhirnya tinggal strop yang menempel pada permukaan kristal yang pemisahannya perlu penyiraman dengan air.

Pencucian air sebaiknya tidak terlambat / terlalu awal, air siraman diberikan setelah + 75% strop dipisahkan.Jumlah air siraman 10% gula. Pemberian dengan uap untuk menghilangkan sisa air pada permukaan kristal. Uap yang dipakai adalah uap jenuh sebanyak + 20% berat gula.

Pencucian dapat dilakukan pula dengan air superheated (tekanan 50 pig, suhu 230 oC).

Pengeringan gula dilaksanakan di talang goyang/pengering gula. Gula dikarungi dalam keadaan dingin agar tidak menggumpal/basah dalam penyimpanan.





DAMPAK GLOBALISASI MEDIA TERHADAP

PENGERTIAN

Kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.

Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.

Ciri globalisasi

Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia.

  • Perubahan dalam konsep ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
  • Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
  • Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
  • Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.

Kennedy dan Cohen menyimpulkan bahwa transformasi ini telah membawa kita pada globalisme, sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi. Sejalan dengan itu, Peter Drucker menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial.

TEORI GLOBALISASI

Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teroritis yang dapat dilihat, yaitu:

  • Para globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut.

· Para globalis positif dan optimistis menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.

· Para globalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).

  • Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasional selama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital.
  • Para transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai "seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung". Mereka menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif atau, setidaknya, dapat dikendalikan.

PERAN MEDIA MASSA

Peran media massa dalam kehidupan sosial, terutama dalam masyarakat

modern tidak ada yang menyangkal, menurut McQuail dalam bukunya Mass

Communication Theories (2000 : 66), ada enam perspektif dalam hal melihat peran

media.

Pertama, melihat media massa seabagai window on event and experience.

Media dipandang sebagai jendela yang memungkinkan khalayak melihat apa yang

sedang terjadi di luar sana. Atau media merupakan sarana belajar untuk mengetahui

berbagai peristiwa.

Kedua, media juga sering dianggap sebagai a mirror of event in society and

the world, implying a faithful reflection. Cermin berbagai peristiwa yang ada di

masyarakat dan dunia, yang merefleksikan apa adanya. Karenanya para pengelola

media sering merasa tidak “bersalah” jika isi media penuh dengan kekerasan, konflik,

pornografi dan berbagai keburukan lain, karena memang menurut mereka faktanya

demikian, media hanya sebagai refleksi fakta, terlepas dari suka atau tidak suka.

Padahal sesungguhnya, angle, arah dan framing dari isi yang dianggap sebagai cermin

realitas tersebut diputuskan oleh para profesional media, dan khalayak tidak

sepenuhnya bebas untuk mengetahui apa yang mereka inginkan.

Ketiga, memandang media massa sebagai filter, atau gatekeeper yang

menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak. Media senantiasa memilih

issue, informasi atau bentuk content yang lain berdasar standar para pengelolanya. Di

sini khalayak “dipilihkan” oleh media tentang apa-apa yang layak diketahui dan

mendapat perhatian .

Keempat, media massa acapkali pula dipandang sebagai guide, penunjuk jalan

atau interpreter, yang menerjemahkan dan menunjukkan arah atas berbagai

ketidakpastian, atau alternative yang beragam

Kelima, melihat media massa sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai

informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga memungkin terjadinya tanggapan dan

umpan balik.

Keenam, media massa sebagai interlocutor, yang tidak hanya sekadar tempat

berlalu lalangnya informasi, tetapi juga partner komunikasi yang memungkinkan

terjadinya komunikasi interaktif.

Pendeknya, semua itu ingin menunjukkkan, peran media dalam kehidupan social

bukan sekedar sarana diversion, pelepas ketegangan atau hiburan, tetapi isi dan

informasi yang disajikan, mempunyai peran yang signifikan dalam proses sosial. Isi

media massa merupakan konsumsi otak bagi khalayaknya, sehingga apa yang ada di

media massa akan mempengaruhi realitas subjektif pelaku interaksi sosial. Gambaran

tentang realitas yang dibentuk oleh isi media massa inilah yang nantinya mendasari

respon dan sikap khalayak terhadap berbagai objek sosial. Informasi yang salah dari

media massa akan memunculkan gambaran yang salah pula terhadap objek sosial itu.

Karenanya media massa dituntut menyampaikan informasi secara akurat dan

berkualitas. Kualitas informasi inilah yang merupakan tuntutan etis dan moral penyajian

media massa.

GLOBALISASI MEDIA

Bertolak dari besarnya peran media massa dalam mempengaruhi pemikiran

khalayaknya, tentulah perkembangan media massa di Indonesia pada massa akan

datang harus dipikirkan lagi. Apalagi menghadapi globalisasi media massa yang tak

terelakan lagi.

Globalisasi media massa merupakan proses yang secara nature terjadi,

sebagaimana jatuhnya sinar matahari, sebagaimana jatuhnya hujan atau meteor.

Pendekatan profesional menjadi kata kunci, masalah dasarnya mudah diterka. Pada

titik-titik tertentu, terjadi benturan antar budaya dari luar negeri yang tak dikenal oleh

bangsa Indonesia. Jadi kekhawatiran besar terasakan benar adanya ancaman,

serbuan, penaklukan, pelunturan karena nilai-nilai luhur dalam paham kebangsaan.

Imbasnya adalah munculnya majalah-majalah Amerika dan Eropa versi

Indonesia seperti : Bazaar, Cosmopolitan, Spice, FHM (For Him Magazine), Good

Housekeeping, Trax dan sebagainya. Begitu pula membajirnya program-program

tayangan dan produk rekaman tanpa dapat dibendung.

Lantas bagaimana bagi negara berkembang seperti Indonesia menyikapi

fenomena transformasi media terhadap perilaku masyarakat dan budaya? Bukankah

globalisasi media dengan segala nilai yang dibawanya seperti lewat televisi, radio,

majalah, koran, buku, film, VCD dan kini lewat internet sedikit banyak akan berdampak

pada kehidupan masyarakat?

Saat ini masyarakat Indonesia sedang mengalamai serbuan yang hebat dari

berbagai produk pornografi berupa tabloid, majalah, buku bacaan di media cetak,

televisi, radio dan terutama adalah peredaran bebas VCD. Baik yang datang dari luar

negeri maupun yang diproduksi sendiri. Walaupun media pornografis bukan barang baru

bagi Indonesia, namun tidak pernah dalam skala seluas sekarang. Bahkan beberapa

orang asing menganggap Indonesia sebagai “surga pornografi” karena sangat

mudahnya mendapatkan produk-produk pornografi dan harganya pun murah.

Kebebasan pers yang muncul pada awal reformasi ternyata dimanfaatkan oleh

sebagian masyarakat yang tidak bertanggungjawab, untuk menerbitkan produk-produk

pornografi. Mereka menganggap pers mempunyai kemerdekaan yang dijamin sebagai

hak asasi warga Negara dan tidak dikenakan penyensoran serta pembredelan. Padahal

dalam Undang-Undang Pers No. 40 tahun 1999 itu sendiri, mencantumkan bahwa

pers berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati normanorma

agama dan rasa kesusilaan masyarakat (pasal 5 ayat 1).

Dalam media audio-visualpun, ada Undang-undang yang secara spesifik

mengatur pornografi, yaitu Undang-undang Perfilman dan Undang-undang

Penyiaran. Dalam UU Perfilman 1992 pasal 33 dinyatakan bahwa setiap film dan

reklame film yang akan diedarkan atau dipertunjukkkan di Indonesia, wajib sensor

terlebih dahulu. Pasal 19 dari UU ini menyebutkan bahwa LSF (Lembaga Sensor

Film) harus menolak sebuah film yang menonjolkan adegan seks lebih dari 50 % jam

tayang. Dalam UU Penyiaran pasal 36 dinyatakan bahwa isi siaran televisi dan radio

dilarang menonjolkan unsur cabul (ayat 5) dan dilarang merendahkan, melecehkan

dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama dan martabat manusia Indonesia (ayat 6).

Globalisasi pada hakikatnya ternyata telah membawa nuansa budaya dan nilai

yang mempengaruhi selera dan gaya hidup masyarakat. Melalui media yang kian

terbuka dan terjangkau, masyarakat menerima berbagai informasi tentang peradaban

baru yang datang dari seluruh penjuru dunia. Padahal, kita menyadari belum semua

warga negara mampu menilai sampai dimana kita sebagai bangsa berada. Begitulah,

misalnya, banjir informasi dan budaya baru yang dibawa media tak jarang teramat asing

dari sikap hidup dan norma yang berlaku. Terutama masalah pornografi, dimana

sekarang wanita-wanita Indonesia sangat terpengaruh oleh trend mode dari Amerika

dan Eropa yang dalam berbusana cenderung minim, kemudian ditiru habis-habisan.

Sehingga kalau kita berjalan-jalan di mal atau tempat publik sangat mudah menemui

wanita Indonesia yang berpakaian serba minim mengumbar aurat. Di mana budaya itu

sangat bertentangan dengan norma yang ada di Indonesia. Belum lagi maraknya

kehidupan free sex di kalangan remaja masa kini. Terbukti dengan adanya video porno

yang pemerannya adalah orang-orang Indonesia.

Di sini pemerintah dituntut untuk bersikap aktif tidak masa bodoh melihat

perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia. Menghimbau dan kalau perlu

melarang berbagai sepak terjang masyarakt yang berperilaku tidak semestinya.

Misalnya ketika Presiden Susilo Bambang Yudoyono, menyarankan agar televisi tidak

menayangkan goyang erotis dengan puser atau perut kelihatan. Ternyata dampaknya

cukup terasa, banyak televisi yang akhirnya tidak menayangkan para artis yang

berpakaian minim.

SOLUSI

Sekarang di Indonesia bermunculan lembaga-lembaga media watch yang keras

terhadap pers sebagai jawaban terhadap kian maraknya penerbitan yang bisa disebut

“pers kuning”, “Massen Preese” dan “Geschaft Presse”.

Melalui media massa pun, kita dapat membangun opini publik, karena media

mempunyai kekuatan mengkonstruksi masyarakat. Misalnya melalui pemberitaan

tentang dampak negatif pornografi, komentar para ahli dan tokok-tokoh masyarakat

yang anti pornografi atau anti media pornografi serta tulisan-tulisan, gambar dan surat

pembaca yang berisikan realitas yang dihadapi masyarakat dengan maraknya

pornografi, maka media dapat dengan cepat mengkonstrusikan masyarakat secara luas

karena jangkauannya yang jauh.

Dalam masyarakat terutama di daerah pedesaan, dikenal adanya opinion

leader atau pemuka pendapat. Mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi

orang lain untuk bertindak laku dalam cara-cara tertentu. Menurut Rogers (1983),

pemuka pendapat memainkan peranan penting dalam penyebaran informasi. Melalui

hubungan sosial yang intim, para pemuka pendapat berperan menyampaikan pesan-pesan, ide-ide dan informasi-informasi baru kepada masyarakat. Melalui pemuka

pendapat seperti tokoh agama, sesepuh desa, kepala desa, pesan-pesan tentang

bahaya media pornografi dapat disampaikan.

Tapi yang lebih penting lagi adalah ketegasan pemerintah dalam menerapkan

hukum baik Undang-Undang Pers, Undang-undang Perfilman dan Undang-Undang

Penyiaran secara tegas dan konsiten di samping tentu saja partisipasi dari masyarakat

untuk bersam-sama mencegah dampak buruk dari globalisasi media yang kalau

dibiarkan bisa menghancurkan negeri ini.